KMPY KEMBALI EKSIS DALAM DUNIA KEORGANISASIAN DAN PENGEMBANGAN SKILL MAHASISWA ASAL PAMEKASAN.
Pengaktifan kembali orda KMPY ini diawali dengan dilaksanakannya
Musyawarah Daerah (Musyda) pada hari Minggu 25 Desember yang bertempat di LKiS
Yogyakarta. Acara tersebut diawali dengan Studium General yang diisi oleh Bpk.
Abdul Ghaffar, salah satu senior KMPY yang saat ini sedang tahap penyelesaian
program S3nya disalah satu kampus ternama di Yogyakarta. "Saya bangga pada
teman-teman mahasiswa Pamekasan karena masih peduli terhadap KMPY. Semangat
seperti ini yang butuhkan oleh daerah kita, karena berawal dari semangat ini
yang nantinya akan mencetak generasi muda yang progresif serta mampu membawa
perubahah khususnya untuk kota Pamekasan dan Madura pada umumnya" terang
beliau.
Setelah acara SG selesai, dilanjut dengan acara persidangan. Sidang
diawali dengan pembacaan draft tata tertib musyda yang dipandu oleh saudara
Abdurrahma sebagai pimpinan sidang, dengan peserta sidang yang berjumlah kurang
lebih 47 peserta. Persidangan ini berjalan dengan lancar, meskipun di tengah
perjalanan terjadi percekcokan antar anggota sidang. Namun percekcokan tersebut
tidak berlansung lama dan tidak menimbulkan efek yang begitu besar.
Setelah sidang tata tertib musyda selesai, dilanjut dengan sidang
yang membahas tata tertib pemilihan ketua umum KMPY. Sidang ini berjalan dengan
lancar tanpa kendala apapun hingga sampai pada saatnya pemilihan bakal calon.
Dalam pemilihan bakal calon, keluar beberapa nama diajukan oleh anggota KMPY,
namun dari beberapa nama yang diajukan, hanya saudara Imamuddin yang memenuhi
syarat untuk menjadi calon ketua umum KMPY.
Karena pada tata tertib pemilihan ketua umum KMPY, jika bakal calin
hanya satu orang maka dapat ditetapkan dengan cara aklamasi. Dan akhirnya
pimpinan sidang memutuskan bahwa, saudara Imamuddin yang berhak menjadi ketua
umum KMPY periode 2016-2018. "Terimakasih kepada seluruh anggota KMPY yang
hadir pada saat ini karena telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk
memimpin KMPY. Satu hal yang ingin saya sampaikan, bahwa KMPY tidak akan maju
jika hanya memimikirkan hal-hal yang pragmatis saja. Maka dari itu mari kita
asah bersama soft skill kita, mari kita tunjukkan bersama-sama bahwa KMPY
memiliki kapasitas yang dapat ditawarkan pada daerah kita. Terakhir, saya tidak
akan berguna sebagai pemimpin tanpa adanya saudara/i di samping saya, maka dari itu, marilah kita
bersama-sama mengembangkan dan memajukan KMPY tentunya untuk masa depan kita
dan kota Pamekasan pada umumnya, karena kita adalah generasi penerus"
tutur Imamuddin dalam sambutannya.
Acara ini diakhiri dengan serah terima jabatan oleh saudara Syaiful
Haq selaku perwakilan pengurus KMPY sebelumnya.
Oleh: Di Mashudi.
Yogyakarta, 27 Desember 2016.
Sejarah kabupaten Pamekasan
Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Nama Pamekasan sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke 16, ketika Ronggo Sukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari kraton Labangan Daja ke kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehinga terjadi perubahan nama wilayah ini.
Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya. Munculnya sejarah Pemerintah Lokal Pamekasan, diperkirakan baru diketahui sejak pertengahan abad ke lima belas (15) berdasarkan sumber sejarah tentang lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sumoyo yang mulai merintis Pemerintahan Lokal di daerah Proppo atau Parupuk Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura dan Sumenep, yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara.
Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada abad 15, tidak dapat disangkal bahwa Kabupaten ini lahir pada zaman kegelapan Majapahit yaitu pada saat daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri. Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bias dipungkiri tentang kemiskinan data sejarah karena di Majapahit sendiri dalam penataan untuk mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya sangat padat kegiatan dengan luas wilayah yang sangat besar.
Saat itu sastrawan-sastrawan terkenal setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra, sedangkan kehidupan masyarakat Madura sendiri, nampaknya lebih berkembang sastra lisan dibandingkan dengan sastra tulis Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-Islam.
Tulisan- tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak menggunakan bahasa Belanda kemudian mulai diterjemahkan atau ditulils kembali oleh sejarawan Madura, seperti Zainal Fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, seperti tulisan pada daun-daun lontar atau layang Madura, namun demikian tulisan pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.
Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua abad ke-16, ketika pengaruh Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggo Sukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di Wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai mengembangkan Agama Islam di kraton dan rakyatnya. Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan se jimat ,yaitu jalan-jalan di alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan masjid Jamik Pamekasan. Namun demikian, sampai saat ini masih belum bisa diketemukan adanya inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk menentukan kepastian tanggal dan bulan pada saat pertama kali ia memerintah Pamekasan.
Bahkan zaman Pemerintahan Ronggo Sukowati mulai dikenal sejak berkembangnya legenda Kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggo Sukowati yang diceritakan mampu membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Arosbaya melalui peristiwa mimpi. Padahal temuan ini sangat penting karena dianggap memiliki nilai sejarah untuk menentukan hari jadi kota Pamekasan.
Terungkapnya sejarah Pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang setelah berhasilnya invasi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal di bawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis seperti Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh sarjana Barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, seperti Graaf dan TH. Pigland tentang kerajaan Islam pertama di Jawa dan Banda tentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit.
Sejarah Awal Munculnya Kerajaan di Madura
Pada zaman dahulu, konon Raja Majapahit mengangkat salah seorang putranya menjadi Kammi Tuwo di pesisir Madura, yakni di Kabupaten sampang yang di kenal dengan nama Ki Ario Lembu Peteng.
Dalam Babad Madura disebutkan bahwa Ki Ario Lembu Peteng inilah yang menurunkan Raja-raja di madura bagian Barat, Ki Aio Lembu Peteng yang beragama budha kemudian masuk islam dan wafat di Ampel sebelum mengislamkan putra-putranya.
Sebagai gantinya di angkatlah putranya yang bernana Ario Menger menjadi Kami Tuwo, dan semasa hidup ayahnya, adiknya yang bernama Ario Mengo diperintah untuk membabat hutan di sebelah timur Madegan. Oleh karena itu, ia bersama pengikutnya menyusuri selat madura bagian selatan karena jalan itulah yang mereka aggap paling aman dari binatang buas.
Di suatu tempat, rombongan Ki Ario Mengo beristirahat, karena tempat yang di singgahi cukup bagus, pepohonan rindang, sejuk, dan terdapat mata air. Timbullah keinginan untuk menetap di situ, kemudian Ki Ario Mengo memeritahkan pengikutnya untuk membabat hutan adan menyuruh pengikutnya untuk membangun rumah dan pagar, yang pintunya terletak di sebelah utara (daja bahasa madura). Demikianlah berdiri keraton kecil yang di beri nama keraton lawangan daya.
Keraton itu semakin lama semakin maju, akhirnya melebihi tempat kelahirannya sendiri, karena Ki Ario Mengo dapat memimpin rakyatnya dengan adi dan bijaksana, sehingga rakyat makmur dan tertur. Masyarakat yang bertempat tinggal di dekat keraton pun berduyun-menghadap untuk mengabdi kepadanya, demikian pula di antara keluarganya yang tinggal di madegan berdatangan dan menetap di Keraton Lawangan Daya.
Asal Nama Kota Pamekasan.
Ki Ario Mengo memiliki seorang putri tunggal yang bernama Nyi Banu. Mia tumbuh menjadi putri yang cerdas dan rupawan, setelah ayahnya wafat, Nyi Banu naik tahta dengan gelar Ratu Pawelingan atau Ratu Pawekasan, karena ia merupakan satu-satunya putri yang menggantikan ayahhandanya, sehingga membuat nama dan keratonya menjadi mashur, dan akhirnya keraton tersebut di kenal dengan nama keraton pamekasan.
Syahdan menceritakan bahwa penggantian nama pawelingan menjadi pamekasan berasalo dari cerita Kek Lesap, sebenarnya ia adalah putra selir Pangeran Cakraningrat V, yaitu Raja Bangkalan. Akan tetapi ia tidak di akui sebagai anak kandungnya, akan tetapi dia tetap memaksakan dirinya untuk mengabdi kepada ayahnya menjadi tukang kuda keraton yang setiap hari harus menyiapkan kuda untuk kompeni belanda.
Akan tetapi Kek Lesap tidak menyukai kerja sama yang di lakukan oleh ayahandanya dengan belanda sehingga dia pergi meninggalkan keraton untuk mengaji, oleh karena ia anak yang cerdas, maka dia di jadikan pembantu oleh kiainya. Pengalam pahitnya ketika di keraton dan kebenciannya terhadap belanda, akhirnya ia bertapa ke gunung Geger di daerah Arosbaya, setelah lama di sana ia pindah ke gunung Payudan di daerah Guluk-guluk Sumenep. Di tempat baru inilah berbulan-bulan ia tidak keluar, ia menyatukan diri dengan Yang Maha Pencipta dengan jalan melupakan makan, minum dan tidur.
Kek Lesap kemudian memiliki kekuatan batin dan memperoleh senjata ampuh berupa celurit kecil yang di beri nama Kodhi’ Crangcang. Yang dengan senjata itu dia tidak takut untuk melawan belanda yangtelah menguasai bupati di daerah madura, dan dia tidak merasa hawatir untuk melawan senjata milik ayahnya.
Setelah Kek Lesap turun dari pertapaanya, ia mempengaruhi pendduk Gulu-guluk dan sekitarnya untuk melawan kompeni belanda dan keraton sumenep, mendebgan maksud Kek Lesap itu, Raden Alza yang bergelar Pangeran Cokro ningrat III, yakni Raja Sumenep hawatir untuk melawanyan, dia lari meloloskan diri untuk meminta bantuan kepada kompeni belanda di surabaya.
Di sumenep tidak ada perlawan, sehingga Kek Lesap dapat menguasai keraton sumenep dengan mudah, peristiwa itu terjadi pada tahun 1750. Dari laporan Raden Alza tersebut, kemudia Kompeni belanda mempersiapkan pasukannya di madura barat.
Dari sumenep Kek Lesap pergi ke arah barat, kebetulan bupatinya (Adikoro IV)sedang pergi melaporkan ke semarang dan dalam perjalanan pulang dia singgah di rumah mertuanya (Cakraningrat V). ia hanya memberi pesan kepada patihnya untuk diberitahukan bahwa daerah kekuasaan Radel Alza telah di tahlukkan. Dari pesan inilah agaknya kata Pawekasan menjadi Pamekasan.
Tulisan diatas menyalin dari : Pemerintahan Ronggo Sukowati Awali Sejarah Pamekasan | Lontar Madura http://www.lontarmadura.com/pemerintahan-ronggo-sukowati-awali-sejarah-pamekasan/#ixzz4SLyTo9Ck
Peran Kaum Muda Dalam Mendorong Kesejahteraan Masyarakat Daerah
Bergulirnya orde reformasi, bukan semata-mata perguliran era dari orde baru ke orde reformasi. Secara substansial, pergeseran ini merupakan pergeseran system sosial politik, dari pusat sampai daerah yang didorong melalui kristalisasi semangat cita kemerdekaan sejati seluruh elemen bangsa.
Akan tetapi yang harus disadari bersama adalah, masih banyak agenda reformasi yang harus terus dipertajam dalam kerangka menerjemahkan semangat reformasi ketataran yang lebih kongkret, yakni terwujudnya peningkatan sumberdaya alam dan manusianya.
Jika diperhatikan, prestasi terkini gerakan reformasi adalah mampu memotong relasi sentralistik birokrasi pemerintahan pusat dalam bentuk diwujudkannya otonomi pemerintahan daerah. Dalam kerangka pergeseran inilah program lanjutan reformasi harus terus dipertajam atau bahkan dirancang ulang guna disesuaikan dengan tantangan yang dihadapi, khususnya tantangan yang dihadapi oleh daerah.
Dalam konteks Pamekasan, sebagai bagian integral dari etnis Madura, tantangan yang harus segera dijawab secara lebih kongkret selain tantangan otonomi daerah adalah tantangan industrialisasi sebagai sebuah fakta sejarah yang harus di sikapi secara bijak. Merunut pada perkembangan wacana industrialisasi yang telah lama bergulir di Madura, semuanya mengarah pada satu kata sepakat untuk segera memperbaiki aspek sumber daya manusia dan mengembangkan aspek sumber daya alam yang dimiliki.
Dalam hal ini, sebenarnya tidak sedikit sumberdaya manusia (recourses) yang dimiliki oleh etnis Madura khususnya Pamekasan. Tinggal langkah selanjutnya adalah bagaimana mempersatukannya dalam agenda gerak serentak pemberdayaan (baik yang ada diluar daerah ataupun dipamekasan sendiri, dalam hal ini peran Pemerintah Kabupaten (PEMKAB) di harapkan mampu menjadi motivator atau bahkan katalisator antar sumberdaya manusia
yang dimiliki untuk menjadikan seluruh masyarakat Madura, khususnya Pamekasan bisa lebih berkemampuan dalam menghadapi beratnya tantangan industrialisasi.
Dalam hal ini, kita, sebagai masyarakat hanya dihadapkan pada dua pilihan: menjadi tumbal logika ekonomistik indutrialisasi dalam “bentuk pemburuhan” massal masyarakat, atau menjadikan kita sebagai sebuah masyarakat sebagai bagian integral dari kekuatan produktif industri dalam bentuk partisipasi produksi. Diaksentuasikannya “kuasa kata” masyarakat karena prestasi kesejarahan sebuah bangsa harus diukur dari tingkat kesejahteran sosial masyarakat luas, dan bukan sekedar kesejahteraan elit-elit tertentu sebagaimana yang terjadi dimasa penjajahan, dimana hanya kalangan penjilat pribumi yang bisa meningkatkan tingkat kesejahteraannya.
Dus, Pemuda dan mahasiswa Pamekasan sebagai bagian integral dari sumberdaya Pamekasan, berkait diantara regulasi sosial yang terus berkembang begitu pesatnya, berinisiatif untuk terus berpartisipasi dalam gerak serentak integrasi seluruh elemen sumberdaya Pamekasan melalui penguatan internal, penajaman cita, penerjemahan agenda pemberdayaan kearah yang lebih kongkret dikalangan mahasiswa dalam bentuk pengadaan media
Rekomendasi Strategis Untuk Menjadikan Pamekasan Sebagai Kota Pendidikan
A. Merancang Kebijakan Daerah Pro Pendidikan
1. Merumuskan paradigma pengembangan pendidikan yang tidak berdasarkan dikotomi ilmu Barat dan ilmu Timur, namun berupaya untuk mensinergikan yang terbaik dari khazanah keduanya untuk kemajuan kota Pamekasan sebagai kota sadar pendidikan.
2. Merumuskan untuk menjadikan pendidikan sebagai human capital invesment. Dalam konteks ini Pemda Pamekasan perlu mengembangkan kebijakan yang mengarah pada pelayanan kebutuhan dasar melalui pendidikan murah atau gratis, agar bisa mendorong gairah produktifitas, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahateraan.
3. Perlunya mengembangkan branch image untuk menjadikan Pamekasan sebagai kota pendidikan dengan berbasis pada potensi dan khazanah lokal. Misalnya, Pamekasan sebagai kota pendidikan santri. Pamekasan yang kaya akan khazanah pendidikan kepesantrenan harus diperbaiki infrastruktur dan suprastrukturnya, seperti fasilitas pendidikan, manajemen pendidikan dan kurikulum pendidikan yang mengarah pada penjaminan mutu pendidikan.
4. Perlu adanya formulasi yang mensinergikan antara potensi yang dimiliki oleh Pemda Pamekasan, pasar (perusahaan), tokoh masyarakat, dan para perantau Madura di luar Madura dalam mendorong proses penjaminan mutu pendidikan di Pamekasan. Pemda dengan membuat kebijakan yang mempromosikan penguatan kapasitas menuju kota pendidikan. Perusahaan melalui Corporat Social Responsibility (CSR) memberikan kepastian pendanaan yang berkelanjutan. Tokoh masyarakat dan perantau berperan sebagai networking dalam penguatan capasity building pendidikan.
5. Pemda Pamekasan harus mempromosikan potensi kerajinan masyarakat, seperti seni membatik, seni ukir dan sejenisnya ke dalam muatan kurikulum lokal.
6. Pemda perlu mengembangkan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk membina warga putus sekolah dan penduduk miskin agar memiliki keterampilan yang profesional sehingga dapat mengakses penghidupan yang layak.
B. Merancang Tata Kelola Sekolah Unggulan
1. Managemen Pendidikan
2. Infrastruktur/Fasilitas Pendidikan
3. Metodologi Pengajaran
4. Sosialisasi Pendidikan
C. Manajemen Pendidikan
1. Aspek Internal:
a. Membangun pola hubungan harmonis, dialogis antara kepala sekolah, staf pengajar, dan para siswa.
b. Membangun kesadaran dan komitmen pendidikan yang berkualitas di kalangan staf pengajar dan para siswa.
2. Aspek Eksternal:
a. Mengembangkan pola hubungan yang sinergis antara kebijakan pemerintah daerah dan pihak sekolah.
b. Membangun pola hubungan dialogis dan partisipatif antara pihak sekolah dengan orang tua siswa.
c. Membangun jaringan dengan institusi pendidikan di tingkat daerah, nasional dan internasional yang selama ini menggelar kompetisi, kejuaraan atau olimpiade mata pelajaran sekolah.
D. Infrastruktur/Fasilitas Pendidikan
1. Membangun atau merawat gedung sekolah sebagai sarana yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar.
2. Mengembangkan perpustakaan yang memiliki sumber-sumber pembelajaran atau referensi yang cukup lengkap sebagai media pembelajaran di luar kelas.
3. Mengembangkan laboratorium pendidikan agar siswa memiliki media ekprementasi pembelajaran untuk mempertajam aspek kognitif, afektif dan psykomotorik.
E. Metodologi Pembelajaran
1. Mengembangkan strategi pembelajaran dialogis, partisipatif di kalangan para guru.
2. Mengembangkan eksprementasi pemaduan antara kurikulum sekolah dengan soal-soal dalam event-event kejuaraan, seperti olimpiade fisika di dalam pengajaran sekolah.
3. Mengembangkan metode out class, atau out bound, selain metode in class.
F. Sosialisasi Pendidikan
1. Menggelar pameran pendidikan.
2. Menggelar event-event pendidikan yang memancing kompetisi belajar siswa di sekolah-sekolah, yang berfungsi juga sebagai pencarian bibit lokal untuk diikutsertakan pada kejuaraan tingkat Nasional dan Internasional.
3. Mengembangkan kerjasama dengan media massa untuk mengkonstruksikan Pamekasan sebagai kota pendidikan.
By: Tim Perumus
Mempertegas Pamekasan Sebagai Kota Pendidikan
Di era reformasi kita ingin membantu masyarakat yang demokratis. Masyarakat yang demokratis sebagai the stakeholder society adalah masyarakat yang para anggotanya berpartisipasi mengambil keputusan bersama pada tingkat lokal untuk mewujudkan kepentingan bersama.
Bangsa yang tidak memperhatikan pendidikan akan ketinggalan dalam kehidupan global yang penuh persaingan dan kerjasama. Bangsa-bangsa yang maju karena pendidikannya yang membebaskan dan mengembangkan daya kreativitas akan menempatkan bangsa tersebut sebagai bangsa yang menang dalam persaingan bebas. (HAR Tilaar 2003)
9 Tahun sudah reformasi bergulir di Indonesia. Sembilan tahun sudah bangsa ini dibayang-bayangi oleh mimpi-mimpi reformasi tersebut, serta rakyat terus berharap dan berimaginasi, mengharapkan makna sesungguhnya dari sebuah reformasi. Sembilan agenda reformasi masih segar diingat oleh telinga seluruh rakyat Indonesia, yaitu; Amandemen Undang-Undang Dasar 1945, Penghapusan Dwi Fugsi ABRI, Supremasi Hukum, Otonomi Daerah, Demokrasi, Penghapusan KKN, Demiliterisasi Warga, Perbaikan Pendidikan, dan Perbaikan Ekonomi. Dari semua itu bisakah semua rakyat ini melihat bahwa cita-cita reformasi tidaklah sampai pada akar permasalahannya, rakyat telah tertipu dengan dengan struktur reformasi kulit luar yang sangat memukau yang akhirnya membunuh perlahan-lahan atas rakyat dan cita-citanya.
Sungguhpun salah satu agenda reformasi adalah reformasi pendidikan di Indonesia yang semula terpusat (centralistic) terotonomisasikan mengikuti langkah dari otonomi daerah yang termasuk hal yang sama yaitu agenda reformasi. Berbicara tentang reformasi pendidikan berarti kita berbicara masalah reformasi kehidupan manusia, karena reformasi pendidikan merupakan reformasi mengenai seluruh aspek kehidupan masyarakat dan bangsa ini. Indonesia sebagai Negara kepulauan sudah barang tentu tidak akan terlepas dari pulau-pulau dan daerah yang disatukan. Setiap pulau dan daerah mempunyai tradisi dan kebudayaan tersendiri yang perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai bekal pemulihan Indonesia dari krisi multi fungsi.
Pamekasan sabagai bagian dari daerah yang terotonomisasikan otomatis terotonomisasikannya di sektor pendidikan dengan artian pamekasan berhak mencari dan mengambil kabijakan di sektor pendidikan berdasarkan potensi daerah dan berorientasi untuk memperbaiki taraf kehidupan rakyat, yang semua itu dimulai dengan pemberdayaan dan peningkatan inteletualnya yakni Sumber Daya Manusianya tanpa itu semua terasa nihil untuk lebih maju dan progresif.
Pamekasan sebagai bagian dan entitas dari Pulau Madura dan kabupaten di Madura yang ditinjau dari geografisnya berada ditengah-tengah pulau serta bisa dijangkau oleh kaputen lainnya di Madura seperti Sampang, Bangkalan, Sumenep dan Kangean yang menjadi issue pemekaran dari kabupaten sumenep sangat dimungkinkan pamekasan dijadikan corong dan kiblat pendidikan di Madura. Tinjauan secara historis, Pamekasan merupakan sentral pemerintahan pada masa kolonial Belanda dan Jepang (Keresidenan madura), yang telah mapan dalam hal administrasi pemerintahan dan administrasi kependidikannya.
Secara analisis, memang tidak mudah menjadikan Pamekasan sebagai kota pendidikan yang nantinya juga akan dijadikan kiblat dari pendidikan di Madura. Daripada itu Paling tidak diperlukan beberapa penopang untuk menuju terintegrasinya pendidikan di Pamekasan. Diantara penunjang menuju kiblat pendidikan se-Madura (kota Pendidikan) adalaha: Pertama; Sumber Daya Manusi – yang kaya disektor kognisi, afeksi dan aksi – yang mampuni dan siap mengelola pada sektor pendidikan. Kedua; Infrastruktur dan suprastrukturnya sebagai penunjang proses keberlangsungan pendidikan. Ketiga; sistem, kurikulum dan manajemen pendidikan yang mampuni dan tepat sasaran tanpa menghilangkan tradisi lokal sebagai bentuk kekayaan sejarah. Dan yang Keempat; adanya kemauan dari seluruh stakeholder – dalam stakeholder society dimana masyarakat merupakan salah satu pemegang hak maka tujuan lembaga-lembaga harus pula menampung apa yang diinginkan oleh masyarakat dan bukan hanya menampung yang diinginkan ole birokrasi – yang ada di Pamekasan baik dari pengambil kebijakan ataupun dari tokoh masyarakat, elemen intelektual – cendikiawan, pemuda dan Mahasiswa – sebagai asset paling penting dari pamekasan.
Banyaknya masyarakat Pamekasan yang berpendidikan dan yang masih menuntut ilmu baik di lokal maupun di daerah-daerah lain adalah sebagai bentuk kekayaan yang perlu diperhatikan agar bisa memanfaatkan ilmunya demi reformasi kahidupan masyarakat pamekasan yang tidak meninggalkan tradisi yang melekat sejak nenek moyang kita.
Adanya persaingan dan kerjasama yang hebat menjadi tantangan tersendiri, apalagi proses industrialisasi sudah tidak bisa terelakkan yang berjalan dari kota besar ke kota atau daerah-daerah yang belum tersentuh telah menjadi hukum tersendiri dari industrialisasi tersebut.
Dengan sekian pembacaan dan refleksi yang kritis, humanis serta transformatif kami selaku bagian dari entitas pamekasan yang ada di Yogyakarta – salah satu kota pendidikan di Indonesia – beriniasitif untuk merumuskan dan turut ikut andil dalam perumusan Pamekasan sebagai kota pendidikan sehingga Pamekasan mempunyai daya jual dan daya tawar yang tidak bisa di pungkiri lagi.
Maka dari itu, Remboeg Nasional Pra Kongres Forum Komunikasi Mahasiswa Pamekasan se indonedonesia di selenggarakan dengan tujuan bisa merumuskan dan mempersiapkan perangkat-perangkat terwujudnya Pamekasan sebagai Kota Pendidikan serta sebagai kiblat pendidikan di Madura secara Khusus dan Nasional secara umum sebagai kontribusi pewujudan dari nilai reformasi sembilan tahun silam.
Dan sudah saatnya tangan bangsa ini ada di tangan pemuda inteletual yang progresif dan berorientasi masa depan ditentukan. Tanpa intelektual-intelektual dari putera daerah yang berpendidikan, maka reformasi seluruh aspek kehidupan menjadi suatu keniscayaan.
Yogyakarta, di tulis pada Februari 2007.
Mahasiswa Pamekasan Yoogyakarta
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
Labels
Diberdayakan oleh Blogger.









